Versi Teks Naruto Gaiden: Jalan yang Disinari Cahaya Bulan
Cerita dimulai dari gelapnya malam,
yang hanya diterangi oleh bulan sabit putih. Ah, tentu saja tidak segelap itu.
Di antara perbukitan, berdiri sebuah bangunan kokoh yang di dalamnya terdapat
sebuah fasilitas laboratorium lengkap, tentunya dengan lampu-lampu yang
meneranginya. Di sana, seorang anak terbangun.
Suara minuman yang dituangkan ke dalam cangkir yang ada di sebelah tempat
tidurnya membuat mata anak itu makin terbuka. Terlebih, suara lelaki/perempuan
yang menuangkannya, "Apa kau sudah bangun?"
Anak itu terbaring di tempat tidur dengan banyak sekali selang-selang infus:
terpasang di sekujur tubuhnya.
"Cobalah obat yang baru saja kubuat ini, aku yakin setelahnya kau akan
baik-baik saja." ucap Orochimaru. "Obatnya ada di cangkir ini,
minumlah..."
Anak itu meminumnya, tapi ia malah batuk-batuk sampai menjatuhkan cangkirnya.
Kelihatannya obat itu tidak enak.
Orochimaru memungut pecahan cangkir di lantai kemudian pergi meninggalkan
ruangan itu. Tapi sebelumnya, ia berpesan pada Suigetsu (yang juga berada di
ruangan itu), "Jika dia sudah sadar sepenuhnya, rawat dia dan antar ke
ruanganku. Kuserahkan semuanya padamu.."
"Baik.."
Orochimaru pergi, sementara anak di atas tempat tidur itu hanya melihat dengan
penuh tanda tanya. Ia bahkan menatap tangannya sendiri, seolah semuanya asing
di hadapannya.
"Hei.." Suigetsu bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"
Anak itu masih terdiam, terus menatap tubuhnya kemudian balik bertanya,
"Siapa... Aku?"
Di ruangannya, Orochimaru sedang dihadap oleh seorang pria berjubah. Motif ular
pada pematik yang ia gunakan untuk menyalakan rokoknya menjadi pertanda bahwa
orang itu merupakan salah satu anak buah Orochimaru.
"Ini sudah kali keenam. Kuharap hasilnya lebih baik.." ucap
Orochimaru.
Kondisi anak tadi sudah lumayan stabil. Setelah semua peralatan medis dalam
tubuhnya dilepas, memakai pakaian, ia pun di antar oleh Suigetsu menuju ruangan
Orochimaru. Sepanjang perjalanan, anak itu terus bertanya-tanya.
"Kenapa aku berada di tempat tidur?"
"Terkadang bisa melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan itu enak, kau
tahu.." jawab Suigetsu.
"Eh?"
"Kau gagal menjalankan misi super rahasia bersama dua tahanan pria dan
Tuan Orochimaru. Karena kau terluka, Tuan Orochimaru pun membawamu kembali ke
persembunyiannya. Apa kau benar-benar tidak ingat?"
Suigetsu menoleh ke belakang dan tiba-tiba saja langsung menyerangnya. Suigetsu
melesatkan kunai ke arah itu. Refleks, anak itu pun menghindar.
Tak hanya menghindar, anak itu juga membelit tangan kanan Suigetsu. Tangannya
mampu memanjang dan mengingat bagai ular. Kunai di tangan Suigetsu terlepas,
anak itu mengambil degan satunya, lalu balik melesatkannya ke kepala Suigetsu.
"Teknik yang bagus.." ucap Suigetsu, dan seketika anak itu pun
menghentikan serangannya. Tangannya ia belitkan jauh ke leher Suigetsu,
menjadikannya sebagai pelindung yang menahan tusukkan kunainya sendiri.
"Ukhh... Maaf, aku keluar kendali..." ucap anak itu.
"Tak apa, paling tidak tubuhmu mengingatnya dengan jelas." ucap
Suigetsu. Ia sengaja menyerang untuk mengetes refleks anak itu. Dan hasilnya
memuaskan. "Itulah bukti bahwa kau adalah ninja.." ucap Suigetsu
lagi.
Suigetsu menggunakan kemampuan airnya untuk menyembuhkan luka di tangan anak
itu. Dan seketika luka oleh kunai tadi sembuh.
"Kau ditangkap oleh musuh dan ingatanmu dihapus saat ditahan di
kota..." jelas Suigetsu lagi. "Tapi menurutku, lebih baik ingatanku
yang dihapus daripada nyawaku. Jadi anggap saja ini sebagai
keberhasilan..."
Anak itu terdiam.
"Ah... Aku hanya ingin menghiburmu." ucap Suigetsu. "Karena jika
talenta nijamu itu hilang, aku yakin Tuan Orochimaru pasti akan kecewa.."
"Orochi... Maru?"
"Hmmm... Kupikir sekarang pun dia sudah cukup kecewa sih.."
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan tempat Orochimaru menunggu. Anak itu
bertanya, dan Orochimaru mengonfirmasinya. "Benar, aku adalah
Orochimaru..." ucapnya. "Dan aku adalah orangtuamu."
"Orangtuaku?"
"Benar... Karena itulah kau merupakan orang yang sangat spesial untukku.
Itu juga alasan kenapa kami akan segera mengembalikan ingatanmu."
"Mengembalikan ingatanku? Bagaimana caranya?"
Orochimaru kemudian menekan sebuah tombol yang ada di meja khusus itu, kemudian
proyeksi tiga dimensi seorang ninja bertopeng muncul.
"Pria ini adalah ninja yang memiliki kemampuan untuk mencuri ingatan orang
lain, lalu menyimpannya sebagai miliknya. Dengan menanamkan ingatan asing pada
korbannya, ia juga bisa mengatur mereka sesukanya. Dan tentu saja, dia juga
memiliki kemampuan untuk mengembalikan ingatan yang telah dicurinya kepada
pemilik aslinya.."
"Mitsuki, ingatanmu telah dicuri oleh orang ini." ucap Orochimaru.
Yaps, Mitsuki adalah nama dari anak itu.
"Satu-satunya cara untuk mengembalikannya padamu adalah dengan menangkap
orang ini, kemudian mengambil kembali ingatanmu darinya.."
"Kita sebut saja pria ini Log, dan nama kemampuan yang digunakannya adalah
Keibiri no Jutsu." jelas Suigetsu.
"Sekali lagi, kita berdua akan pergi menemui orang ini.." ucap
Orochimaru.
"Tunggu sebentar!" potong Mitsuki. "Pada misi sebelumnya, kenapa
kau dan aku harus menemui pria ini?"
Orochimaru diam sejenak kemudian menjawab, "Alasannya tentu saja untuk
mencuri semua informasi yang ia miliki. Jadi kita harus menangkapnya
hidup-hidup, mengerti?"
"Informasi penting dari kita juga sudah dicuri, jadi kita akan membalasnya.."
ucap Suigetsu.
Mitsuki masih bingung dengan semua ini. "Kau bilang namamu Orochimaru...
Iya kan? Jika waktu itu kau bersamaku, bukankah itu berarti bisa jadi ingatanmu
sudah diubah juga, kan? Dan aku masih bingung, kau itu orangtua yang mana? Ibu
atau ayahku!?"
"Hal itu tidak penting..." ucap Orochimaru. "Kau tahu, aku ini
adalah salah satu Legenda Sannin, aku bukanlah ninja sembarangan.."
"Lalu..." Mitsuki bertanya lagi, "Kenapa kau mengajak anak lemah
sepertiku untuk ikut menjalankan misi penting ini?"
"Sepertinya kau sudah meremehkan kemampuanmu sendiri.." ucap
Orochimaru. "Aku sudah mengatakannya tadi, kau itu spesial. Kau adalah
anakku. Ingatanmu akan segera kembali. Kau adalah hartaku, anak yang menawan.
Misi ini merupakan salah satu misi terpenting untuk kita, sebagai orangtua dan
anak.."
"Tapi..." Mitsuki masih ragu.
"Kau itu masih anak-anak, kau harusnya mendengar ucapan orangtuamu."
ucap Orochimaru. Mitsuki pun tak bisa membantah lagi.
"Aku hanya... Ingin tahu siapa aku sebenarnya, tidak lebih.." ucap
Mitsuki.
"Makanya, selama kau bersamaku akan kuceritakan semuanya.." ucap
Orochimaru.
Lereng bukit, karang tinggi yang dikelilingi air dan kekuatan misterius, ninja
pencuri ingatan itu duduk sambil berkonsentrasi memegang pedang di depan sebuah
gulungan.
Mendadak matanya terbuka, seolah sadar ada sesuatu yang mendekat.
Di luar, di pinggiran lereng, Mitsuki dan Orochimaru sudah sampai di tempat
itu.
"Di sana, dia memasang penghalang..." ucap Orochimaru.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Kau hancurkan penghalang itu.." ucap Orochimaru.
"Eh?" Mitsuki kaget.
"Tentu saja, itulah kenapa aku membawamu saat itu. Hanya kaulah
yang bisa menghancurkan penghalang itu."
"Aku punya... Kekuatan seperti itu?"
"Ya, kau hanya melupakannya." ucap Orochimaru. "Kau punya
kekuatan yang spesial, aku akan mengajarimu bagaimana cara
menggunakannya."
Ninja pencuri ingatan makin waspada. Pedang yang sebelumnya ia genggam telah
ditarik, posisi bersiap. "Penghalangnya... Jadi mereka telah tiba
ya..."
Seperti yang diajarkan Orochimaru, Mitsuki menggunakan kekuatannya. Telapak
tangannya ia tempelkan pada tembok penghalang itu, dan seketika terbuka lubang
di penghalang itu.
Mitsuki kaget dengan kemampuannya sendiri.
"Itulah kemampuanmu, sekarang kita maju!"
Mereka pun bergerak cepat, melompat-lompat tinggi ala ninja menunju puncak
tempat musuh berada. Sampai, dan musuh sudah menunggu mereka.
"Jadi kau menyadari kedatangan kami ya, sudah kuduga.." ucap
Orochimaru.
"Sebenarnya kalian tak perlu datang kemari, aku berencana untuk datang
padamu sesegera mungkin... Untuk memperoleh kunci yang bisa membukanya..."
ucap ninja itu.
"Kanashibari no Jutsu!!"
Ninja itu mengeluarkan jutsu pelumpuh, namun sepertinya hal itu tak berpengaruh
pada Orochimaru.
"Kali ini aku pasti akan mengambilnya kembali, bersama dengan ingatan anak
ini!" Orochimaru menarik pedangnya dan maju menyerang.
"Hah, sepertinya jurus pelumpuhku sudah tak berpengaruh lagi
padamu.."
Musuh maju dengan pedangnya, keduanya bergerak dengan kecepatan yang sama-sama
tinggi, menghantam pedang musuh dengan pedangnya.
"Cepat sekali..." pikir Mitsuki.
Tak hanya pedang, Orochimaru juga membelitnya dengan ular besar dari tangan
kirinya. Namun saat hendak menggigit dan memasukkan racun ke bahu kirinya,
taring ular Orochimaru tak cukup kuat.
"Kau punya baju zirah yang bagus.." ucap Orochimaru, "Tak
kusangka taringku tak bisa menembusnya, apa kau melakukan penyempurnaan?"
"Tak ada yang kutakutkan jika aku bisa menahan racunmu.." ucap ninja
itu.
Tak hanya menahan, ninja itu juga mampu menyerang dengan pakaian tempurnya itu.
"Ninpo: Yoroi Gui!!"
Bagian hitam dari pakaian itu dengan cepat melapisi tubuh Orochimaru.
"Saat itu aku membiarkanmu kabur dengan sangat mudah, tapi hari ini tidak
lagi..."
"Mitsuki..." tubuh Orochimaru hampir terlapisi semuanya. "Kau
punya..." Hanya matanya yang masih terbuka, "Kekuatan Sage...
Selanjutnya kuserahkan... Pada..."
Namun Mitsuki benar-benar tak berkutik.
"Benar... Dialah yang sebenarnya kukhawatirkan." ucap ninja itu.
"Saat itu aku benar-benar dibuat babak belur.."
Mitsuki tak tahu harus berbuat apa, dan ia bahkan tak bisa bergerak. Jutsu
pelumpuh sebelumnya tak mampu menghentikan Orochimaru, namun tidak dengan
Mitsuki.
"Heh... Jutsu pelumpuh tadi... Kau tak menghilangkannya? Sepertinya kau
bahkan sudah lupa dengan kekuatanmu sendiri..."
Ninja itu berjalan perlahan mendekati Mitsuki, "Sayang sekali..."
Ia bersiap untuk menebaskan pedangnya...
"Tubuhku... Tak bisa bergerak..."
"Tanpa kekuatanmu itu, kau hanyalah bocah biasa!!!"
Batss!! Sebelum pedang itu menyentuh Mitsuki, tiba-tiba saja ia berhenti. Ninja
itu tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Orochimaru pun terlepas dari dekapan jutsu musuh. "Kau terlalu fokus
dengan ular besar..." ucapnya. "Sampai-sampai ular kecil bisa
menembus sela-sela zirahmu dan menyuntikkan racunnya..."
Tampak seekor ular kecil keluar dari celah di bagian mulut topeng yang musuh
kenakan.
Mitsuki kaget, "S-Sejak kapa dia.."
"Dengan racun itu, saat ini kau tak akan bisa bergerak ataupun
bicara." ucap Orochimaru. "Mitsuki, jadilah anak baik dan berjagalah
di sini untuk sementara."
"Sekarang kau bisa bergerak, kan?"
"Kau mau ke mana?"
"Ada sesuatu yang harus kucari.."
Orochimaru masuk ke dalam bangunan musuh. "Setelah menemukannya, aku akan
segera kembali. Dan satu lagi, kusarankan jangan dekat-dekat denganya, paham?"
Setelahnya Orochimaru pun meninggalkan
mereka berdua.
"Haah..." tampak ninja itu berusaha sekuat tenaga untuk bicara. Dan
meskipun rasanya begitu susah, ia terus mencoba, dan berhasil. "Racun..
yang begitu kuat..." ucapnya.
"Kau tak perlu cemas.." ucap ninja itu saat melihat ekspresi takut
Mutsuki. "Bicara saja aku sudah kesusahan..."
"Hei..." ninja itu memanggil, "Bisa minta tolong lepaskan
topengku sebentar?"
"Apa kau mencoba untuk menipuku!?" tanya Mitsuki.
"Tidak.. Jika kau melepaskannya, kau akan tahu kalau yang terjadi justru sebaliknya.."
ucap ninja itu. "Biar kuberitahu satu hal, orang yang menipumu... Tak lain
adalah Orochimaru."
"!?"
"Aku tahu dari mana asal kebingunanmu itu... Semuanya." ucap ninja
itu lagi, sementara Mitsuki masih bertanya-tanya dan hatinya goyah.
"Orochimaru tidak memberitahumu hal yang sebenarnya, kan? Kau hanya
buang-buang waktu jika terus bersamanya..."
"Apa kau tahu..." ninja itu bertanya, "Siapa kau
sebenarnya?"
"Aku... Aku anaknya Orochimaru..." jawab Mitsuki ragu.
"Sebelumnya, aku yakin aku sudah menghapus semua ingatanmu yang salah...
Tapi, kali ini Orochimaru malah memanfaatkannya untuk melawanku ya?"
"!?"
"Nah, kemarilah, coba lepaskan topengku..." ucap ninja itu. "Aku
ini sama sepertimu..."
Mitsuki makin bingung, hatinya makin goyah, dan akhirnya ia melakukannya.
Mitsuki memanjangkan tangan kanannya, kemudian membuka topeng orang itu dan...
Di balik topeng itu, versi dewasa dari Mitsuki. Wajahnya sama.
"Aku juga Mitsuki.." ucapnya. "Aku diciptakan sebelum
dirimu."
Mitsuki makin kaget, "Apa... Apa maksud semua ini!?"
"Singkatnya, kau dan aku adalah manusia sintetis yang diciptakan oleh
Orochimaru. Wadah yang dibuat hanya untuk memenuhi keinginannya."
"Wadah ini dulunya disebut Tsuki, dan Mi berasal dari shio keenam yang
berarti ular. Karena itulah, kita dinamai Mitsuki."
Mitsuki masih tak mengerti, "Manusia... Sintetis!?"
"Yang sedang dicari oleh Orochimaru di sini adalah embrio asal kita. Kita
diciptakan dari budidaya embrio itu, makanya kau bisa menghilangkan pelindung
dan masuk ke sini."
"Tadinya, aku berencana untuk mencuri embrio itu dari Orochimaru dan
menghancurkannya selamanya. Namun untuk membuka gulungan tempat embrio itu
berada, pertama-tama aku membutuhkan kunci yang dibawa oleh Orochimaru."
"Kenapa kau ingin menghancurkannya!?"
"Organisme yang diciptakan secara buatan bukanlah manusia! Ciptaannya itu
hanyalah bentuk dari egoisme manusia. Tiruan bodoh dari para dewa yang memutar
balikkan hukum alam. Wadah ini hanya proyek dari keserakahan Orochimaru. Tidak
lebih dari itu. Sama sepertimu, aku diciptakan sebagai anaknya Orochimaru...
Dan aku sangat berbakat. Tapi, aku berhasil kabur darinya. Karena itu, dia
menjadikanmu sebagai penggantinya..."
"Orochimaru akan terus menciptakan makhluk seperti kita hanya demi dirinya
sendiri. Sejak awal kita berdua tak seharusnya berada di dunia ini. Tapi sebelum
itu..."
Mitsuki besar menoleh ke samping, ke arah Orochimaru yang telah keluar dari
gedung itu sambil membawa gulungan yang sebelum Mitsuki besar lindungi.
"Terlepas dari proses kelahiran kalian, kalian sama saja dengan manusia
pada umumnya. Kalian berdua adalah anak sempurna yang kusayangi dari lubuk
hatiku yang paling dalam.." ucap Orochimaru.
"Kekuatan yang ada dalam diri kalian melebihi kekuatanku sendiri. Apa
kalian tahu berapa lama aku menunggu sampai bisa mewujudkan ciptaanku? Apa
salah seorang ninja sepertiku ingin punya anaknya sendiri? Dan sudah sepatutnya
bukan, manusia memaafkan hal yang dilakukan atas dasar cinta... Iya, kan?"
"Itu cuma alasan untuk perilaku angkuhmu, kan!?" bentak Mitsuki
besar, "Kau pikir kau bisa mengendalikan semua hal tanpa ada
akibatnya!?"
"Aku tak pernah berniat untuk meniru dewa.. Aku cuma menuruti kehendak
yang mereka berikan. Itu saja."
"Mitsuki!" Mitsuki besar berusaha untuk meyakinkan saudara kecilnya,
"Kau masih anak-anak dan belum paham betul, tapi... Nanti kau pasti akan
menyadari betapa sesat jalannya!! Kau harus menghentikan Orochimaru!! Aku
adalah bentuk dewasamu, jadi kau pasti tak akan menyesalinya!!"
"Mitsuki.. Dia hanya mencoba untuk memanfaatkan kepolosanmu." ucap
Orochimaru. "Aku punya embrio... Dan kuncinya ada di tanganku. Kemarilah,
Mitsuki... Akan kubuatkan saudara yang lebih baik untuk kau ajak bermain."
"Hei Mitsuki!!"
"Kemarilah, Mitsuki..."
Dua orang dewasa itu sama-sama membujuk Mitsuki.. Mitsuki lama-lama jadi geram.
Topeng yang berada di tangannya pun sampai pecah oleh cengkramannya.
"Bagi anak-anak sepertiku... Memilih ke mana aku harus pergi... DI antara
kalian berdua... Tidak ada bedanya."
Mitsuki berubah. Aura ular menyelimuti tubuhnya. Tatapan mengerikan dari
seorang anak yang diciptakan sempurna. Sage ular menyala...
Selanjutnya : Chapter 2