Breaking News

Friday, September 16, 2016

Anime Summer 2016 : Tatoo Taboo

Anime Summer 2016 : Tatoo Taboo

Ketika saya mengunjungi salah satu situs terbaik dan mungkin yang paling terkenal di Indonesia, mungkin kamu akan mengenalnya jika aku memberitahu namanya sebagai http://samehadaku.net. Saya melihat salah satu menunya berisi tentang Anime Summer 2016. Jujur saya baru pertama kali tahu, bahwa ada anime yang hanya berlangsung selama musim panas saja! Lalu dengan iseng aku membuka beberapa dari daftar yang tersedia. Dan dari semua anime summer 2016 yang tersedia disana, saya merasa sangat tertarik dengan anime yang berjuduk Tattoo Taboo. Mungkin banyak dari kamu yang bertanya-tanya seperti apa sih anime Tattoo Taboo ini???


OKE, karena itulah sekarang admin kembali hadir kehadapan anda dengan artikel ini. Pada kesempatan kali ini, saya ingin mereview tentang anime Tattoo Taboo ini dengan singkat, padat dan jelas.Berikut akan saya uraikan beberapa review saya tentang salah satu anime summer tahun 2016 ini.


1. Alur cerita pada anime ini memiliki penceritaan yang menarik. Setiap episode dalam anime ini dapat memikat penonton karena ceritanya berlangsung dengan seru dan tidak membosankan. Alur cerita dari anime ini bercerita tentang seorang laki-laki yang bernama Akatsuna Seigi yang menolong seorang orangtua ketika dia sedang dikejar. Dan karena kebaikannya dia pun diberi sebuah tatoo. Dan yang paling mengejutkan adalah ternyata tato tersebut memiliki kekuatan!


2. Kekuatan dalam anime Tattoo Taboo sangat menarik karena cukup masuk akal bagi para penonton anime ini. Diceritakan bahwa tattoo adalah peninggalan dari reruntuhan kuno. Tattoo ini memiliki kekuatan mistis masing-masing yang hanya bisa diaktifkan dengan pemicu tertentu. Selain itu, tattoo ini juga dapat memberikan efek samping yang dapat berbahaya bagi penggunanya. Efek samping itu dapat berupa tubuh tidak bisa berkembang, tubuh menderita kecacatan tertentu atau salah satu yang paling berbahaya adalah bagi pengguna void maker. Karena jika mereka menggunakan kekuatan mereka terlalu sering dapat menyebabkan hangusnya mereka tanpa meninggalkan jejak apapun. Tapi meskipun tattoo harus memiliki pemicu, ada sebuah tattoo yang tidak memiliki pemicu. Tattoo ini sering disebut Tattoo tanpa Pemicu dan dianggap sebagai tattoo terkuat dari semua tattoo yang ada. Pada cerita Tattoo Taboo yang saya ikuti sampai saat ini, hanya 2 orang yang masih ditunjukkan sebagai pemilik dari tattoo ini.


3. Setiap episode dari anime Tattoo Taboo selalu dapat memberikan kepuasan bagi para penontonnya dan menambah rasa penasaran yang sangat besar bagi para penonton. Karena itulah saya menyarankan pada kamu para pecinta anime untuk segera menikmati setiap episode yang terdapat pada anime Tattoo Taboo.


Oke, kira-kira sekian yang dapat saya bagikan tentang anime ini untuk sementara. Untuk info lebih lanjut, kamu dapat menunggu post berikutnya. Atau jika kamu tertarik untuk mengikuti setiap episode dari anime ini, kamu dapat berkunjung ke http://samehadaku.net. Sekali lagi sekian artikel ini, atas perhatiaannya saya ucapkan banyak terimakasih. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan jangan lupa untuk selalu berkunjung kembali.
Read more ...

Monday, September 12, 2016

Tentang Saya

Tentang Saya


Menulis merupakan suatu hobby yang sejak lama saya gemari. Berbagai cara telah saya lakukan untuk mengembangkan kemampuan menulis saya. Baik itu melalui cerpen, novel, puisi dan artikel. Namun ketidakpuasan akan minimnya viewers dari tulisan-tulisan saya membuat saya termotivasi untuk menyebarkan tulisan-tulisan saya melalui media sosial, seperti blog. Sebagai seorang blogger, saya mengelola berbagai blog dengan jenis artikel yang berbeda. Untuk blog saya yang ini, saya membuat tema anime. Selain blog ini, ada satu lagi blog saya yang bertemakan anime. Jika sempat berkunjung, kunjungi Http://johannes.pun.bz

Yah, sebagai sesama penggemar anime. Blog ini menyediakan beberapa anime seperti Naruto, One Piece, Bleach, Hunter X Hunter, Fairy Tail dan Dragon Ball. Jika kamu kurang puas dengan anime-anime yang tersedia disini, kamu dapat merequest anime yang kamu inginkan ke post yang telah admin sediakan secara khusus di menu atas. Namun, request anime dapat juga dilakukan melalui email yang saya sediakan dibawah! Terimakasih.....,

Untuk mengenal saya lebih jelas, anda dapat melihat data-data saya dibawah ini.

Nama          : Johannes Trikardo Lumbantoruan
Sekolah       : SMA Negeri 2 Lintongnihuta
Alamat        : Nagasaribu, Lintongnihuta
Email          : Johannestrikardo@gmail.com
Facebook    : Johannes Trikardo Lumbantoruan

OK, sekian untuk perkenalan singkatnya. Silahkan nikmati segala isi dari blog. Jika ada banyak kekurangan dan kesalahan, mohon dimaafkan, yah! Dan semoga saja setiap artikel di blog ini berguna bagi kita.....
Read more ...

Sunday, May 29, 2016

Versi Teks Bleach Chapter 639



Versi Teks Bleach Chapter 639

Sebelumnya : Versi Teks Bleach Chapter 638
Mayuri dan Pernida dengan akal bulus masing-masing!! Serangan balasan Mayuri dimulai dari lengannnya yang dimodifikasi!!

Lick... Krekkk... terdengar lengan yang coba dikendalikan Pernida sebelumnya mengalami peregangan.

"...Payah juga hasilnya. Sudah lama aku gak mengoperasi lenganku, sampai lupa caranya. Memalukan. Hasilnya kurang bagus." Ujar spontan Mayuri memandangi lengannya.

"Memalukan." Ejek Pernida dengan sorotan sinis. "Maksudmu...Kau...Gelisah?"

Ejekan itu rupanya membuat Mayuri mengerutkan senyumnya. Wajah yang tadinya masih sibuk terpaku pada tangannya kini langsung dipalingkan ke arah gumpalan daging berbentuk tangan kiri itu.

"Oh? Menurutmu begitu?" Tanya Mayuri dengan senyum khasnya.

"Mau......Semakin gelisah?" Timpal tanya Pernida lagi.

GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Sepersekian detik setelah pertanyaan itu dilontarkan Pernida, tiba-tiba dari arah kelingking Pernida yang telah terpisah dari tangannya mengeluarkan suara aneh.

Bukan berbicara, namun tampaknya terjadi sesuatu. Sesuatu keluar tak jauh dari mata jari kelingking itu –sesuatu mirip atau memang itu sebuah jari yang baru dan membentuk kembali menjadi tangan kiri yang baru.

"!" Mayuri terkejut, seolah terkena serangan jantung.

Tangan kiri yang baru saja dibentuk dari jari kelingking yang terpotong itu pun melesat cepat menuju ke arah Mayuri. Semakin dekat...tinggal beberapa meter saja dari tempat Mayuri berdiri. Dengan sigap seolah tak kehabisan akal, Mayuri melemparkanalat anehnya tepan hingga bagian tubuh Pernida yang lain itu menggenggamnya.

Boommmm! Benda itu meletup seketika, membuat telapak tangan kiri yang baru saja dikembang biakkan itu terkena luka bakar.

"...Jadi, kalau jarinya kupotong, dia jadi tangan kiri yang baru? Berarti gak bisa ya mencincangmu sampai kecil-kecil..." Ucap Mayuri menganalisa keadaan, sementara di sisi lain tangan yang baru itu masih diselimuti kepulan asap akibat bom tadi.

GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Terdengar jeritan lagi, namun dari arah berlawanan. Bersamaan dengan itu pula terdengar bunyi seperti tulang yang diregangkan dari arah berlawanan.

Jari tengah Pernida dipatahkan! Bukan oleh ulah Mayuri, namun nampaknya ini disengaja Pernida sendiri.

"Mau......Semakin... gelisah?" Ejek Pernida sembari membuat kloningan dirinya lagi lewat jari tengah yang baru dipatahkannnya.

"Ahh...Darah... masuk mataku..." Ucap Pernida dalam perihnya lantaran matanya terkena cucuran darah yang mengalir melalui jari tengahnya yang patah. "Aduhh Sakittt"

"...Begitu toh." Tanggap Mayuri.

"-Aku ingat buku yang pernah kubaca waktu muda."

Seting kini memperlihatkan kilas-balik ratusan tahun yang lalu, ketika Mayuri masih muda –masih berpenampilan layaknya waktu direkrut Urahara dulu. Mayuri muda terlihat berada di sebuah perpusatakaan, sangat jelas jika dilihat dari rak-rak buku yang tersusun rapi di sekitar situ.

"Tangan kanan Reiou mengatur 'keberhentian', tangan kirinya mengatur 'kemajuan'. Ya, 'kan." Baca Mayuri pada sebuah buku yang sepertinya berisi tentang informasi-informasi rahasia yang ada di Soul Society.

"Walau tertulis di buku, belum tentu berarti benar toh." Seru Mayuri dengan lantang sembari mengakhiri kilas balik dirinya di masa lalu. "Aku biasanya gak percaya sampai bisa kulihat dengan mata sendiri."

"-Tapi gak kusangka aku bisa punya kesempatan...Membuktikan keduanya sekaligus."

"Wah, wah. Pertarungan ini sungguh jadi luar biasa..." Ucap beruntun Mayuri yang Nampak mulai serius –atau katakanlah terpojokkan. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang mengatakan sendiri kondisi itu.

Musuhnya adalah... tangan kiri!! Dan tangan kiri!! Dan... tangan kiri lagi!!
Mayuri yang masih berdiri tegap di depan tiga buah tangan kiri sang Raja yang menjulang tinggi ini pun mulai menampakkan taringnya. Ia yang sedari tadi hanya bermain-main menggunakan barang-barang hasil penelitiannya ini mulai serius. Tangan penuh bekas jahitan itu bersigap mencabut Zanpakutou dari pinggangnya.

"Ban...kai..." Rilis Mayuri dengan lantang. Sementara di sisi lain di pihak SHinigami, Ikkaku dan Yumichika terlihat panik bak kebakaran jenggot.

"Gawat!! Itu Konjiki Ashisogi Jizou!!!" Pekik Yumichika yang berada di samping Ikkaku. Nampaknya ia menyadari betul apa yang akan terjadi bila 'makluk normal' seperti mereka berada di dekat Bankai itu.

"Konjiki Ashisogi Jizou bukan cuma bisa menimpa musuh karena besar badannya...Dia juga melepaskan racun dalam radius sekitar 200 meter!!" Lanjut Yumichika yang langsung berlari kea rah Taichou-nya. "Kurotsuchi-taichou mau meracuninya sampai mati!! Kita harus bawa Zaraki-taichou pergi dari sini!!!"

"Meracuni sampai mati? Berlebihan sekali..." Mayuri menyela. "Sekarang...Dengan semua data yang kukumpulkan......Akhirnya aku bisa...'melahirkannya'."

"-Konjiki Ashisogi Jizou: Matai Fukuin Shoutai." *)

"...Ap...Apa-apaan itu...?!" Ujar spontan Ikkaku dan Yumichika yang berbalik tertegun melihat makluk yang keluar dari Bankai Mayuri itu.

Bukan seperti bayi setengah ulat yang mereka kenal, kali ini bentuknya benar-benar seperti bayi yang mengalami obesitas. Bankai kali ini juga berkulit gelap, di perutnya ada semacam luka sayat, sementara di kepalanya tercapat tanduk yang menggantung lampion di ujungnya.

"Bankai yang dimodifikasi." Jelas Mayuri memecah ketegangan. "Konjiki Ashisogi Jizou kumodifikasi ulang dengan memasang Matai Fukuin Shoutai, Metamorfosis sempurna dari Konjiki Ashisogi Jizou."

"-Dengan kemampuannya... Dia bisa melahirkan Ashisogi Jizou lain......Melalui data yang kukirim dalam pertempuran."

"Tak paham." Celetuk Pernida yang memang bingung.

"Kau bakal segera paham." Timpal Mayuri.

OGYAAAA

Jeritan tangis bayi terdengar dari arah Konjiki Ashisogi Jizou. Tak lama dari itu, perut yang ada luka sayatannya ini tiba-tiba 'melahirkan sesar' seuatu seperti bayi ulat, wujud serupa dengan Konjiki Ashisogi Jizou versi awalnya.

AAAAAAAAAAAAAAAHHH.......IIIIIIIIIIIIIIIIIHHHH

Jetitan kembali menggemburuh, namun kali ini berasal dari bayi baru lahir ini –gampangnya ini seperti bayi baru lahir seperti pada umumnya yang mengeluarkan tangis ketika baru bersentuhan dengan udara segar.

"Ashisogi Jizou ini...Urat syarafnya di atas kulitnya." Terang Mayuri.

GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH

"Jadi walau cuma kena angin atau menyentuh lantai... dia bakal amat, sangat kesakitan sekali." Lanjut Mayuri yang tadi sempat disela oleh jeritan 'bayi' ini. "Tapi selain itu...Bagian pentingnya adalah...Urat syaraf di atas kulitnya...Terbagi jadi 70.000 lapisan kulit."

Seolah mengabaikan Mayuri dengan penjelasannya, Pernida mengeluarkan syarafnya yang langsung diarahkan ke Ashisogi Jizou. Namun sialnya hal ini tak berhasil, sesuatu terjadi dengan Ashisogi Jizou.

"-Dengan kata lain, walau kau bisa masuk ke syarafnya...Lapisan kulitanya akan rontok dan...Hilang deh." Sambung Mayuri dengan senyum kecil.

Di sisi seberang, Pernida membelalak, terpojokkan, sementara Ashisogi Jizou yang tak berhasil ia kendalikan berbalik serang menuju ke arahnya.

"Kenapa? Bisa kok dilawan."

"-Asalkan kau bisa menembus 70.000 lapisan syarafnya...Sebelum ditelan sampai habis." Ujar Mayuri yang kini balas mengejek potongan tangan kiri itu.

Bersamaan dengan senyum khas Mayuri yang kini ia kerutkan lagi, Pernida pun berhasil tertelan habis ke perut Ashisogi Jizou.

Musuh sudah ditelan, kelihatannya pertarungan berakhir... tapi...?!

Tatapan Nemu menyembunyikan perasaannya...!! Jangan ketinggalan bab berikutnya!! Sampul berwarna dan halaman pengenalan!!

_

_

Notes:

*) Matai Fukuin Shoutai = Rahim Iblis Berselimut Penyakit

Selanjutnya : Versi Teks Bleach Chapter 640


Read more ...

Versi Teks Naruto Gaiden: Jalan yang Disinari Cahaya Bulan

 Versi Teks Naruto Gaiden: Jalan yang Disinari Cahaya Bulan

Cerita dimulai dari gelapnya malam, yang hanya diterangi oleh bulan sabit putih. Ah, tentu saja tidak segelap itu. Di antara perbukitan, berdiri sebuah bangunan kokoh yang di dalamnya terdapat sebuah fasilitas laboratorium lengkap, tentunya dengan lampu-lampu yang meneranginya. Di sana, seorang anak terbangun.

Suara minuman yang dituangkan ke dalam cangkir yang ada di sebelah tempat tidurnya membuat mata anak itu makin terbuka. Terlebih, suara lelaki/perempuan yang menuangkannya, "Apa kau sudah bangun?"


Anak itu terbaring di tempat tidur dengan banyak sekali selang-selang infus: terpasang di sekujur tubuhnya.

"Cobalah obat yang baru saja kubuat ini, aku yakin setelahnya kau akan baik-baik saja." ucap Orochimaru. "Obatnya ada di cangkir ini, minumlah..."

Anak itu meminumnya, tapi ia malah batuk-batuk sampai menjatuhkan cangkirnya. Kelihatannya obat itu tidak enak.


Orochimaru memungut pecahan cangkir di lantai kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Tapi sebelumnya, ia berpesan pada Suigetsu (yang juga berada di ruangan itu), "Jika dia sudah sadar sepenuhnya, rawat dia dan antar ke ruanganku. Kuserahkan semuanya padamu.."

"Baik.."

Orochimaru pergi, sementara anak di atas tempat tidur itu hanya melihat dengan penuh tanda tanya. Ia bahkan menatap tangannya sendiri, seolah semuanya asing di hadapannya.

"Hei.." Suigetsu bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"

Anak itu masih terdiam, terus menatap tubuhnya kemudian balik bertanya, "Siapa... Aku?"


Di ruangannya, Orochimaru sedang dihadap oleh seorang pria berjubah. Motif ular pada pematik yang ia gunakan untuk menyalakan rokoknya menjadi pertanda bahwa orang itu merupakan salah satu anak buah Orochimaru.

"Ini sudah kali keenam. Kuharap hasilnya lebih baik.." ucap Orochimaru.


Kondisi anak tadi sudah lumayan stabil. Setelah semua peralatan medis dalam tubuhnya dilepas, memakai pakaian, ia pun di antar oleh Suigetsu menuju ruangan Orochimaru. Sepanjang perjalanan, anak itu terus bertanya-tanya.

"Kenapa aku berada di tempat tidur?"
"Terkadang bisa melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan itu enak, kau tahu.." jawab Suigetsu.

"Eh?"


"Kau gagal menjalankan misi super rahasia bersama dua tahanan pria dan Tuan Orochimaru. Karena kau terluka, Tuan Orochimaru pun membawamu kembali ke persembunyiannya. Apa kau benar-benar tidak ingat?"

Suigetsu menoleh ke belakang dan tiba-tiba saja langsung menyerangnya. Suigetsu melesatkan kunai ke arah itu. Refleks, anak itu pun menghindar.


Tak hanya menghindar, anak itu juga membelit tangan kanan Suigetsu. Tangannya mampu memanjang dan mengingat bagai ular. Kunai di tangan Suigetsu terlepas, anak itu mengambil degan satunya, lalu balik melesatkannya ke kepala Suigetsu.

"Teknik yang bagus.." ucap Suigetsu, dan seketika anak itu pun menghentikan serangannya. Tangannya ia belitkan jauh ke leher Suigetsu, menjadikannya sebagai pelindung yang menahan tusukkan kunainya sendiri.


"Ukhh... Maaf, aku keluar kendali..." ucap anak itu.

"Tak apa, paling tidak tubuhmu mengingatnya dengan jelas." ucap Suigetsu. Ia sengaja menyerang untuk mengetes refleks anak itu. Dan hasilnya memuaskan. "Itulah bukti bahwa kau adalah ninja.." ucap Suigetsu lagi.

Suigetsu menggunakan kemampuan airnya untuk menyembuhkan luka di tangan anak itu. Dan seketika luka oleh kunai tadi sembuh.

"Kau ditangkap oleh musuh dan ingatanmu dihapus saat ditahan di kota..." jelas Suigetsu lagi. "Tapi menurutku, lebih baik ingatanku yang dihapus daripada nyawaku. Jadi anggap saja ini sebagai keberhasilan..."

Anak itu terdiam.

"Ah... Aku hanya ingin menghiburmu." ucap Suigetsu. "Karena jika talenta nijamu itu hilang, aku yakin Tuan Orochimaru pasti akan kecewa.."

"Orochi... Maru?"
"Hmmm... Kupikir sekarang pun dia sudah cukup kecewa sih.."


Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan tempat Orochimaru menunggu. Anak itu bertanya, dan Orochimaru mengonfirmasinya. "Benar, aku adalah Orochimaru..." ucapnya. "Dan aku adalah orangtuamu."

"Orangtuaku?"

"Benar... Karena itulah kau merupakan orang yang sangat spesial untukku. Itu juga alasan kenapa kami akan segera mengembalikan ingatanmu."


"Mengembalikan ingatanku? Bagaimana caranya?"

Orochimaru kemudian menekan sebuah tombol yang ada di meja khusus itu, kemudian proyeksi tiga dimensi seorang ninja bertopeng muncul.

"Pria ini adalah ninja yang memiliki kemampuan untuk mencuri ingatan orang lain, lalu menyimpannya sebagai miliknya. Dengan menanamkan ingatan asing pada korbannya, ia juga bisa mengatur mereka sesukanya. Dan tentu saja, dia juga memiliki kemampuan untuk mengembalikan ingatan yang telah dicurinya kepada pemilik aslinya.."


"Mitsuki, ingatanmu telah dicuri oleh orang ini." ucap Orochimaru. Yaps, Mitsuki adalah nama dari anak itu.

"Satu-satunya cara untuk mengembalikannya padamu adalah dengan menangkap orang ini, kemudian mengambil kembali ingatanmu darinya.."

"Kita sebut saja pria ini Log, dan nama kemampuan yang digunakannya adalah Keibiri no Jutsu." jelas Suigetsu.

"Sekali lagi, kita berdua akan pergi menemui orang ini.." ucap Orochimaru.


"Tunggu sebentar!" potong Mitsuki. "Pada misi sebelumnya, kenapa kau dan aku harus menemui pria ini?"

Orochimaru diam sejenak kemudian menjawab, "Alasannya tentu saja untuk mencuri semua informasi yang ia miliki. Jadi kita harus menangkapnya hidup-hidup, mengerti?"

"Informasi penting dari kita juga sudah dicuri, jadi kita akan membalasnya.." ucap Suigetsu.


Mitsuki masih bingung dengan semua ini. "Kau bilang namamu Orochimaru... Iya kan? Jika waktu itu kau bersamaku, bukankah itu berarti bisa jadi ingatanmu sudah diubah juga, kan? Dan aku masih bingung, kau itu orangtua yang mana? Ibu atau ayahku!?"

"Hal itu tidak penting..." ucap Orochimaru. "Kau tahu, aku ini adalah salah satu Legenda Sannin, aku bukanlah ninja sembarangan.."

"Lalu..." Mitsuki bertanya lagi, "Kenapa kau mengajak anak lemah sepertiku untuk ikut menjalankan misi penting ini?"


"Sepertinya kau sudah meremehkan kemampuanmu sendiri.." ucap Orochimaru. "Aku sudah mengatakannya tadi, kau itu spesial. Kau adalah anakku. Ingatanmu akan segera kembali. Kau adalah hartaku, anak yang menawan. Misi ini merupakan salah satu misi terpenting untuk kita, sebagai orangtua dan anak.."

"Tapi..." Mitsuki masih ragu.

"Kau itu masih anak-anak, kau harusnya mendengar ucapan orangtuamu." ucap Orochimaru. Mitsuki pun tak bisa membantah lagi.


"Aku hanya... Ingin tahu siapa aku sebenarnya, tidak lebih.." ucap Mitsuki.
"Makanya, selama kau bersamaku akan kuceritakan semuanya.." ucap Orochimaru.

Lereng bukit, karang tinggi yang dikelilingi air dan kekuatan misterius, ninja pencuri ingatan itu duduk sambil berkonsentrasi memegang pedang di depan sebuah gulungan.

Mendadak matanya terbuka, seolah sadar ada sesuatu yang mendekat.


Di luar, di pinggiran lereng, Mitsuki dan Orochimaru sudah sampai di tempat itu.

"Di sana, dia memasang penghalang..." ucap Orochimaru.
"Apa yang harus kita lakukan?"

"Kau hancurkan penghalang itu.." ucap Orochimaru.
"Eh?" Mitsuki kaget.
"Tentu saja, itulah kenapa aku membawamu saat itu. Hanya kaulah yang bisa menghancurkan penghalang itu."

"Aku punya... Kekuatan seperti itu?"

"Ya, kau hanya melupakannya." ucap Orochimaru. "Kau punya kekuatan yang spesial, aku akan mengajarimu bagaimana cara menggunakannya."


Ninja pencuri ingatan makin waspada. Pedang yang sebelumnya ia genggam telah ditarik, posisi bersiap. "Penghalangnya... Jadi mereka telah tiba ya..."

Seperti yang diajarkan Orochimaru, Mitsuki menggunakan kekuatannya. Telapak tangannya ia tempelkan pada tembok penghalang itu, dan seketika terbuka lubang di penghalang itu.


Mitsuki kaget dengan kemampuannya sendiri.
"Itulah kemampuanmu, sekarang kita maju!"

Mereka pun bergerak cepat, melompat-lompat tinggi ala ninja menunju puncak tempat musuh berada. Sampai, dan musuh sudah menunggu mereka.

"Jadi kau menyadari kedatangan kami ya, sudah kuduga.." ucap Orochimaru.
"Sebenarnya kalian tak perlu datang kemari, aku berencana untuk datang padamu sesegera mungkin... Untuk memperoleh kunci yang bisa membukanya..." ucap ninja itu.


"Kanashibari no Jutsu!!"

Ninja itu mengeluarkan jutsu pelumpuh, namun sepertinya hal itu tak berpengaruh pada Orochimaru.

"Kali ini aku pasti akan mengambilnya kembali, bersama dengan ingatan anak ini!" Orochimaru menarik pedangnya dan maju menyerang.

"Hah, sepertinya jurus pelumpuhku sudah tak berpengaruh lagi padamu.."

Musuh maju dengan pedangnya, keduanya bergerak dengan kecepatan yang sama-sama tinggi, menghantam pedang musuh dengan pedangnya.


"Cepat sekali..." pikir Mitsuki.

Tak hanya pedang, Orochimaru juga membelitnya dengan ular besar dari tangan kirinya. Namun saat hendak menggigit dan memasukkan racun ke bahu kirinya, taring ular Orochimaru tak cukup kuat.

"Kau punya baju zirah yang bagus.." ucap Orochimaru, "Tak kusangka taringku tak bisa menembusnya, apa kau melakukan penyempurnaan?"

"Tak ada yang kutakutkan jika aku bisa menahan racunmu.." ucap ninja itu.


Tak hanya menahan, ninja itu juga mampu menyerang dengan pakaian tempurnya itu. "Ninpo: Yoroi Gui!!"

Bagian hitam dari pakaian itu dengan cepat melapisi tubuh Orochimaru. "Saat itu aku membiarkanmu kabur dengan sangat mudah, tapi hari ini tidak lagi..."

"Mitsuki..." tubuh Orochimaru hampir terlapisi semuanya. "Kau punya..." Hanya matanya yang masih terbuka, "Kekuatan Sage... Selanjutnya kuserahkan... Pada..."


Namun Mitsuki benar-benar tak berkutik.

"Benar... Dialah yang sebenarnya kukhawatirkan." ucap ninja itu. "Saat itu aku benar-benar dibuat babak belur.."

Mitsuki tak tahu harus berbuat apa, dan ia bahkan tak bisa bergerak. Jutsu pelumpuh sebelumnya tak mampu menghentikan Orochimaru, namun tidak dengan Mitsuki.

"Heh... Jutsu pelumpuh tadi... Kau tak menghilangkannya? Sepertinya kau bahkan sudah lupa dengan kekuatanmu sendiri..."


Ninja itu berjalan perlahan mendekati Mitsuki, "Sayang sekali..."

Ia bersiap untuk menebaskan pedangnya...

"Tubuhku... Tak bisa bergerak..."

"Tanpa kekuatanmu itu, kau hanyalah bocah biasa!!!"

Batss!! Sebelum pedang itu menyentuh Mitsuki, tiba-tiba saja ia berhenti. Ninja itu tak bisa menggerakkan tubuhnya.


Orochimaru pun terlepas dari dekapan jutsu musuh. "Kau terlalu fokus dengan ular besar..." ucapnya. "Sampai-sampai ular kecil bisa menembus sela-sela zirahmu dan menyuntikkan racunnya..."

Tampak seekor ular kecil keluar dari celah di bagian mulut topeng yang musuh kenakan.

Mitsuki kaget, "S-Sejak kapa dia.."

"Dengan racun itu, saat ini kau tak akan bisa bergerak ataupun bicara." ucap Orochimaru. "Mitsuki, jadilah anak baik dan berjagalah di sini untuk sementara."


"Sekarang kau bisa bergerak, kan?"

"Kau mau ke mana?"
"Ada sesuatu yang harus kucari.."

Orochimaru masuk ke dalam bangunan musuh. "Setelah menemukannya, aku akan segera kembali. Dan satu lagi, kusarankan jangan dekat-dekat denganya, paham?"
Setelahnya Orochimaru pun meninggalkan mereka berdua.

"Haah..." tampak ninja itu berusaha sekuat tenaga untuk bicara. Dan meskipun rasanya begitu susah, ia terus mencoba, dan berhasil. "Racun.. yang begitu kuat..." ucapnya.

"Kau tak perlu cemas.." ucap ninja itu saat melihat ekspresi takut Mutsuki. "Bicara saja aku sudah kesusahan..."


"Hei..." ninja itu memanggil, "Bisa minta tolong lepaskan topengku sebentar?"

"Apa kau mencoba untuk menipuku!?" tanya Mitsuki.

"Tidak.. Jika kau melepaskannya, kau akan tahu kalau yang terjadi justru sebaliknya.." ucap ninja itu. "Biar kuberitahu satu hal, orang yang menipumu... Tak lain adalah Orochimaru."

"!?"


"Aku tahu dari mana asal kebingunanmu itu... Semuanya." ucap ninja itu lagi, sementara Mitsuki masih bertanya-tanya dan hatinya goyah. "Orochimaru tidak memberitahumu hal yang sebenarnya, kan? Kau hanya buang-buang waktu jika terus bersamanya..."

"Apa kau tahu..." ninja itu bertanya, "Siapa kau sebenarnya?"

"Aku... Aku anaknya Orochimaru..." jawab Mitsuki ragu.


"Sebelumnya, aku yakin aku sudah menghapus semua ingatanmu yang salah... Tapi, kali ini Orochimaru malah memanfaatkannya untuk melawanku ya?"

"!?"

"Nah, kemarilah, coba lepaskan topengku..." ucap ninja itu. "Aku ini sama sepertimu..."

Mitsuki makin bingung, hatinya makin goyah, dan akhirnya ia melakukannya. Mitsuki memanjangkan tangan kanannya, kemudian membuka topeng orang itu dan...

Di balik topeng itu, versi dewasa dari Mitsuki. Wajahnya sama.


"Aku juga Mitsuki.." ucapnya. "Aku diciptakan sebelum dirimu."

Mitsuki makin kaget, "Apa... Apa maksud semua ini!?"

"Singkatnya, kau dan aku adalah manusia sintetis yang diciptakan oleh Orochimaru. Wadah yang dibuat hanya untuk memenuhi keinginannya."


"Wadah ini dulunya disebut Tsuki, dan Mi berasal dari shio keenam yang berarti ular. Karena itulah, kita dinamai Mitsuki."

Mitsuki masih tak mengerti, "Manusia... Sintetis!?"

"Yang sedang dicari oleh Orochimaru di sini adalah embrio asal kita. Kita diciptakan dari budidaya embrio itu, makanya kau bisa menghilangkan pelindung dan masuk ke sini."


"Tadinya, aku berencana untuk mencuri embrio itu dari Orochimaru dan menghancurkannya selamanya. Namun untuk membuka gulungan tempat embrio itu berada, pertama-tama aku membutuhkan kunci yang dibawa oleh Orochimaru."

"Kenapa kau ingin menghancurkannya!?"

"Organisme yang diciptakan secara buatan bukanlah manusia! Ciptaannya itu hanyalah bentuk dari egoisme manusia. Tiruan bodoh dari para dewa yang memutar balikkan hukum alam. Wadah ini hanya proyek dari keserakahan Orochimaru. Tidak lebih dari itu. Sama sepertimu, aku diciptakan sebagai anaknya Orochimaru... Dan aku sangat berbakat. Tapi, aku berhasil kabur darinya. Karena itu, dia menjadikanmu sebagai penggantinya..."


"Orochimaru akan terus menciptakan makhluk seperti kita hanya demi dirinya sendiri. Sejak awal kita berdua tak seharusnya berada di dunia ini. Tapi sebelum itu..."

Mitsuki besar menoleh ke samping, ke arah Orochimaru yang telah keluar dari gedung itu sambil membawa gulungan yang sebelum Mitsuki besar lindungi.

"Terlepas dari proses kelahiran kalian, kalian sama saja dengan manusia pada umumnya. Kalian berdua adalah anak sempurna yang kusayangi dari lubuk hatiku yang paling dalam.." ucap Orochimaru.


"Kekuatan yang ada dalam diri kalian melebihi kekuatanku sendiri. Apa kalian tahu berapa lama aku menunggu sampai bisa mewujudkan ciptaanku? Apa salah seorang ninja sepertiku ingin punya anaknya sendiri? Dan sudah sepatutnya bukan, manusia memaafkan hal yang dilakukan atas dasar cinta... Iya, kan?"

"Itu cuma alasan untuk perilaku angkuhmu, kan!?" bentak Mitsuki besar, "Kau pikir kau bisa mengendalikan semua hal tanpa ada akibatnya!?"

"Aku tak pernah berniat untuk meniru dewa.. Aku cuma menuruti kehendak yang mereka berikan. Itu saja."

"Mitsuki!" Mitsuki besar berusaha untuk meyakinkan saudara kecilnya, "Kau masih anak-anak dan belum paham betul, tapi... Nanti kau pasti akan menyadari betapa sesat jalannya!! Kau harus menghentikan Orochimaru!! Aku adalah bentuk dewasamu, jadi kau pasti tak akan menyesalinya!!"


"Mitsuki.. Dia hanya mencoba untuk memanfaatkan kepolosanmu." ucap Orochimaru. "Aku punya embrio... Dan kuncinya ada di tanganku. Kemarilah, Mitsuki... Akan kubuatkan saudara yang lebih baik untuk kau ajak bermain."

"Hei Mitsuki!!"
"Kemarilah, Mitsuki..."

Dua orang dewasa itu sama-sama membujuk Mitsuki.. Mitsuki lama-lama jadi geram. Topeng yang berada di tangannya pun sampai pecah oleh cengkramannya.


"Bagi anak-anak sepertiku... Memilih ke mana aku harus pergi... DI antara kalian berdua... Tidak ada bedanya."

Mitsuki berubah. Aura ular menyelimuti tubuhnya. Tatapan mengerikan dari seorang anak yang diciptakan sempurna. Sage ular menyala...

 Selanjutnya : Chapter 2
Read more ...

Versi Teks One Piece Chapter 825

Versi Teks One Piece Chapter 825

Sebelumnya : Versi Teks One Piece Chapter 824
Cover Story One Piece Chapter 825

Dari Geladak Kapal Dunia:
The 5 Hundred Million Man Arc
Vol.16 : Weatheria

Kakek-kakek Weatheria lagi pose ala boyband.


"Kapal... Kapal..."

Kapal besar Big Mom bernyanyi dengan riangnya. Di atasnya, masih ada Sanji serta orang-orang Big Mom. Tak hanya Tamago dan anak buah Bege, ada juga prajurit-prajurit berseragam khusus, berbaris maju sambil menggenggam tombak berujung hati. Tentara kue.

Tampak juga beberapa kru yang sibuk bolak balik membawa kado, kotak berbalut pita cantik yang sama besarnya dengan tubuh yang bawa.


"Nyororororo..." Vito berjalan mengikuti Sanji sambil bercerita soal Germa 66. "Di koran dunia World Economic Times, ada cerita bergambar dengan robot besar hebat di dalamnya. Sora si Kesatria Lautan, aku sudah membacanya dari dulu sekali sampai lupa tepatnya kapan. Pahlawan yang mampu berjalan di atas laut, Sora, yang ditemani oleh robot dan burung camar-rerorero..."

"Bertarung dengan tentara iblis Germa 66!!"


"Itu merupakan cerita pahlawan lautan!! Dan fansnya tersebar di seluruh dunia!! Nyorororo!! Dari yang kudengar, cerita itu diadaptasi dari kisah nyata kisah nyata pahlawan-pahlawan Angkatan Laut. Pada dasarnya, itu adalah usaha mereka untuk mencuci otak anak-anak...!! Membuat anak-anak berpikir kalau Angkatan Laut itu selalu menegakkan keadilan dan merupakan yang terkuat!! Nyorororo!! Tapi aku malah tidak tertarik sama sekali dengan mereka!!"

"Aku malah lebih mendukung Germa!!" Vito terus bicara dengan penuh semangat. "Pasukan iblis yang terus menerus berusaha untuk menangkap dan mengalahkan Sora! Tapi tentu saja, di cerita mereka selalu kalah. Tapi aku terus mendukung mereka, Aku mendukung timmu!!"

"Jangan ikut-ikutkan aku dengan mereka!!" bentak Sanji.

"Oh ayolah, jangan bicara begitu.." ucap Vito. "Jujur saja, aku sangat gembira saat bisa bertemu salah seorang dari mereka secara langsung.."

"Kenapa tak pergi saja mencari Prajurit Iblis itu? Kau pasti meledak saking senangnya.." ucap Sanji ketus.

Sanji dan Vito terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan pintu besar, yang hampir tiga kali tinggi Sanji. Dan pintu itu hidup. Wajah yang terlihat seperti orang baru bangun tidur muncul di pintu ketika Sanji menyentuhnya.

"Oi!! Buka pintunya!!" Sanji mengetuk.
Pintu pun terbuka sembari bernyanyi, "Pintu...."

Sanji masuk ke ruangan itu sementara Vito terus bersamanya, "Yah, kau tahu sendiri kan..."

"Jangan terus menerus kemari!! Ini adalah kamar pribadiku!!" bentak Sanji.

"Dan ini merupakan kamarku juga!!" bentak Caesar, yang terkurung dalam sangkar kecil di ruangan itu. "Keluarkan aku dari sini!!" bentak Caesar. "Sial, apa kalian tak merasa kalau perlakuan terhadapku jauh berbeda!? Aku ini ilmuan jenius, kau tahu!!"

"Hah, masih saja mengeluhkan hal tak penting seperti itu.." ucap Vito. "Caesar, kami hanya diperintahkan untuk menangkapmu. Di sisi lain," Vito melihat Sanji, "Orang ini akan menghubungkan Keluarga Vinsmoke dan Charlotte, dia jauh lebih berharga!! Nyororo..."

"Aku tak akan menikah!! Cepat, pergi sana sialan!!" bentak Sanji.

"Pergi!? Orang ini sudah bicara kasar pada Vito..." ucap salah seorang anggota Bajak Laut Firetank, Pembunuh, Gotti. Gotti tiba-tiba muncul dan memandang Sanji dengan tatapan sinis. Tubuhnya besar, tangan kiri menggenggam rantai sementara tangan kanannya telah dimodifikasi dengan senapan mesin.

Gotti kesal pada Sanji karena telah bicara kasar pada Vito.

"Hei Hei, Gotti!! Tunggu!!" Vito mencoba untuk menghentikannya. "Ini bukan masalah besar!! Tak apa, ia cuma bercanda..."

Goti masih mengarahkan tangan mesinnya ke Sanji, yang duduk santai sambil menghisap rokok di atas sofa empuk.

"Aku tidak bercanda!! Gotti, Vito, kalian berdua cepat enyah sana!!" bentak Sanji lagi.

Gotti jadi makin marah, "Coba katakan itu sekali lagi keparat!!" ia menodongkan tangan senapannya ke wajah Sanji, "Awas kalau kau berani bicara kasar pada teman-temanku lagi!!"

"T-Tunggu, maafkan dia, Gotti!!" ucap Vito.

"Yang tak bisa dimaafkan itu adalah menikah dan menjadi teman orang-orang seperti kalian!!" ucap Sanji, yang makin membuat Gotti kesal.

Vito tak bisa menghentikan Gotti, tapi kemudian, seorang perempuan muncul dan menghentikannya. "Gotii...!!"

Prempuan seksi mirip Lola muncul dan membentak Gotii, "Apa kau tak tahu dia itu siapa!? Dia adalah anak dari Keluarga Vinsmoke!! Apa kau tak tahu kalau kau menggoresnya sedikit saja, bos akan dihabisi dalam waktu sekejap!?" perempuan itu lalu menjewer kuping Goti dan membawanya pergi jauh-jauh, "Atau kau mau kuhabisi sekarang juga!?"

"Maaf... Maafkan aku, Nyonya!! Maafkan aku.." ucap Gotti.

"Nyororo, maafkan aku juga, ayo kita bicarakan tentang Germa lagi lain kali..." ucap Vito lalu ikut pergi.

"Sudah cukup.." bentak Sanji.

"Tapi, kelihatannya..." ucap Sanji pelan, "Sesuatu mengingatkanku pada mereka."


Beberapa hari kemudian, Thousand Sunny...

Mereka berada di atas lautan yang begitu panas. Matahari amat terik hingga kulit Luffy, Chopper, Pedro, dan Brook yang sedang memancing berubah keriput. Oh iya, Brook nggak punya kulit.

"Tak tahan lagi..."
"Aku akan mati... Terlalu panas..."

Tak hanya kepanasan, Luffy dan teman-temannya masih kelaparan, sampai-sampai untuk bicara normal saja susah.

"Aku... Me..uap... Makan... Sanji.. Ee..."
"Panas sekali... Aku ingin membuka buluku..." ucap Chopper.
"Kami... Suku Mink... juga lemah dengan panas..." ucap Pedro.

"Panas sekali... ya... Kalau begini terus bisa-bisa aku jadi mumi..." ucap Brook. "Mumi...? Ah, hei, Nami, bukankah itu akan tampak seperti pembangkitan kembali? Tapi sesuai jalanku?"

"Aku tak peduli!" bentak Nami.

Ia dan Carrot berteduh di balik tembok, sama-sama kepanasan dan kelaparan.

"Nami-san..." Brook memanggil Nami lagi, "Apakah sekarang waktu yang tepat untuk kau mengizinkan aku melihat sekilas celana dalammu?"

"Haah... Aku bahkan tak punya energi untuk menendangmu..." ucap Nami.
"Nami... Panas sekali... Aku kelaparan..." ucap carrot. "Aku butuh nutrisi..."

Pekoms yang belum sembuh betul tiduran tak jauh dari Nami.

"Kita kehabisan makanan, kita melewati badai tiap hari, kita belum menangkap satu ikan pun.. Akhirnya sekarang cuaca cerah, ayo memancing sebelum cuacanya berubah lagi!! Dan sebelum kita semua... Mati kelaparan..."

Nami yang meminta pada mereka berempat untuk memancing, tapi dari tadi belum ada hasil sama sekali.

"Kami juga ingin cepat makan, tapi... Nami... Lautnya terlalu panas... Bahkan sampai mendidih...!!"

"Tak akan ada ikan yang datang... Lapar sekali..." Luffy menatap Chopper.
"Lihat apa kau, hah!? Aku bukan daging konsumsi!!" bentak Luffy.

Kemudian Pedro tiba0tiba saja berteriak, "Luffy!! Umpanmu ditarik!!"

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada ikan yang memakan umpan mereka. "Makanan...!!" Luffy bersemangat dan langsung menariknya.

"Tarik, Luffy!!"
"Oooohhh!!!"
"Berjuanglah, Luffy!!!!"
"Luffy-san, semangat...!!!!"

Akhirnya, ikan pun berhasil ditangkap. Ikan besar dengan warna yang agak aneh. "Makanan!!" jerit semuanya. "Horeee!!!"

"Gao..!!" Pekoms menjulurkan lidahnya.

"Besar sekali!!!" jerit Brook.

"Uwaaa, tapi apa warnanya tak terlalu aneh!? Apa ikan ini benar-benar bisa dimakan!?" ucap Chopper. Tapi Luffy sudah tak sabar untuk langsung memakannya. "Luffy, tunggu sebentar!!" teriak Chopper.

"Aku akan mengeceknya terlebih dahulu!!"
Chopper kemudian pergi untuk mencari buku masak Sanji.
"Di mana sih Ensiklopedia ikan ini... Ya ampuk, rak Sanji isinya majalah porno semua... Ah, ketemu!!"

Ketemu, Chopper pun kembali, "Luffy!! Hati-hati dengan kulitnya!! Kulitnya beracun!! Lihat, di buku Sanji tertulis..."

Sayang sekali Chopper terlambat. Luffy sudah terlebih dahulu memakan kulit ikan besar itu. "Kulitnya enak sekali!!" ucap Luffy. "Hei, Carrot, sini cobalah sedikit!! Rasanya... berlendir..."

"Luffy!!!"

Sementara yang lain bisa memakan ikan itu dengan benar karena Chopper mengolahnya sesuai prosedur, Luffy malah keracunan.

"Enak!! Enak sekali, Nami!!" ucap Carrot.
"Itu karena aku memasaknya sesuai catatan Sanji..."

"D... Dingin..." ucap Luffy, padahal cuaca panas.

"L-Luffy akan mati...!!" teriak Chopper sambil bercucuran air mata.
"Chopper, kau harus menenangkan dirimu..." ucap Nami.

Chopper sedih. "Aku dag... puma.. cukub... obad-obadan.... Kita harus cepat menemukan pulau, Nami..."

"Aku paham kalau kita harus cepat-cepat menemukan pulau, tapi... Bukankah tertulis kalau racunnya dapat mematikan dalam waktu singkat!? Tapi dia masih hidup... Ah, benar juga, Luffy itu kebal terhadap racun, kan?"

"Luffy... Dia bisa mati?" ucap Carrot.

"Aku... Baik-baik... saja... aku melihat... sebuah lorong yang bercahaya..."
"Jangan pergi ke lorong itu, Luffy!!!"

...

Kondisi Pekoms sudah cukup baik, ia pun merobek perban-perban yang membalutnya. "Beberapa hari sudah berlalu, Sanji si Kaki Hitam pasti sudah sampai di pulau. Kurasa, sekarang kita sudah hampir mencapai wilayah kekuasaannya..."

"Wilayah kekuasaan?"

Kemudian, salju tiba-tiba saja turun..
"Eh? Salju? Rasanya sedikit berbeda... Manis?"

"Ya, sebenarnya itu permen dari awan permen kapas.."
"Permen kapas!?" Chopper bersemangat.

Keong laut teritorial, makhluk itu hidup di laut dan mengirim sinyal hingga membuat denden mushi berdering..
"Pirurururu!!"

"Oh, siapa yang memanggil dengan Denden Mushi?"
"Itu adalah tanda peringatan karena kita telah memasuki wilayah kekuasaan Big Mom.. Kalian harus bersembunyi atau menyamar!!" ucap Pekoms.

Sementara Chopper masih asyik dengan permen itu, "Permen kapas... Manis!!"

...

Dari atas Sunny, Pedro mengawasi kejauhan, "Aku baru saja melihat sesuatu, Pekoms.."
"Cepat sekali, jadi mereka sudah sampai ya..."

"Itu adalah kapal pengintai-gao!! Aku akan berusaha sebisa mungkin mengikuti prosedur yang ada, kalian tenanglah..."

"Mungkin mereka punya obat penawar..." ucap Chopper.

"Eeh!?" Pekoms kaget. Makin dekat kapal itu, akhirnya ia sadar. Itu bukanlah kapal pengawas seperti yang ia pikir.

"Ini Germa 66, kami melihat kapal Topi Jerami!!"

"Tidak!!" ucap Pekoms. "Itu kapal Germa 66!!"
"Eeh...!?"

Akhirnya, mereka memunculkan diri!! Seluruh keluarga Sanji...? Seorang pria beralis keriting memandang ke arah Sunny dengan tatapan mengancam.


Selanjutnya : Versi Teks One Piece Chapter 826
Read more ...
Designed By